Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bid’ah terbagi menjadi beberapa bagian, bid’ah yang selama ini kita pahami bahwa setiap bid’ah adalah sesat, ternyata tidak segampang itu untuk mengklasifikasikan mengenai kesesatan dari perbuatan bid’ah itu sendiri. Nah pada pembahasan kali ini kami akan membahas mengenai macam-macam bid’ah. Berikut penjelasannya.

Bid’ah Muhdatsat

Bid’ah muhdatsat ialah bid’ah yang sifatnya mengubah ajaran yang sudah ditetapkan oleh Rasulullah saw. baik bersumber dari al-Qur’an maupun hadis. Segala bid’ah dari jenis ini hukumnya haram muthlak. Bid’ah inilah yang disebut bid’ah sesat atau bid’ah dholalah.

Contoh  daripada bid’ah muhdatsah ini misalnya, menambah atau mengurangi jumlah rakaat dalam shalat fardhu, karena hal semacam itu secara muthlak oleh Rasulullah saw. Misalnya jumlah rakaat shalat subuh yang benar adalah dua rakaat kemudian dirubah menjadi empat rakaat.

Hal bar semacam ini termasuk ke dalam bid’ah muhdatsat dan dihukumi haram muthlak, bid’ah yang semacam inilah yang dimaksud oleh Rasulullah saw. dalam sebuah hadis yang disebut dengan segala sesuatu yang baru ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat, sedangkan setiap yang sesat masuk ke dalam neraka.

Mengubah jumlah bilangan rakaat dalam shalat termasuk mengada-ada atau menjadikan ajaran yang sudah ada menjadi ajaran baru. Hal semacam itu yang dimaksud terhukumi bid’ah, dan setiap bid’ah semacam itu pasti sesat, dan setiap yang sesat pasti masuk neraka.

Inilah yang dimaksud di dalam hadis yang berbunyi “setiap bid’ah itu sesat”, yakni bid’ah yang membuat ajaran atau syariat baru sehingga bertentangan dengan syariat yang sudah ada.

Bid’ah Ghoiru Muhdatsat

Bid’ah ghoiru muhdatsat ialah bid’ah yang sifatnya tidak merubah ajaran Rasulullah saw. Bid’ah semacam ini hukumnya ialah halal dan boleh untuk dilakukan. Bid’ah muhdatsat disebut juga dengan bid’ah hasanah, atau bid’ah yang baik.

Terkait dengan pembahasan bid’ah, Syaikh Izzuddin bin Abdissalam mengemukakan pendapat yang cukup signifikan. Dalam kitan Qowaidul Ahkam fii masaalihil anam, juz dua halaman 133 beliau mengemukakan yang artinya:

“Bid’ah terbagi menjadi lima bagian, ada bid’ah yang wajib, ada bid’ah yang haram, ada bid’ah yang sunnah, ada bid’ah yang makruh, da nada bid’ah yang makruh.”

Hukum Dasar Bid’ah

Hukum dasar bid’ah yang tidak merubah ajaran Rasulullah saw. adalah boleh (mubah). Karena hukum boleh itu merupakan hukum dasar, maka bila bid’ah itu berhubungan dengan perkara yang wajib, tentu saja bid’ah tersebut nantinya menjadi wajib.

Contoh, dalam memahami al-Qur’an dan hadis itu wajib bagi umat Islam, karena keduanya merupakan sumber hukum dan petunjuk kebenaran. Sedangkan kita tahu bahwa bahasa al-Qur’an adalah bahasa arab.

Maka untuk memahami al-Qur’an kita juga harus bisa berbahasa arab. Bahasa arab tidak lepas dari ilmu Nahwu dan ilmu Sharaf sebagai ilmu tata bahasa arab. Tidak mungkin belajar bahasa tanpa mempelajari tata bahasanya.

Mempelajari ilmu nahwu dan sharaf untuk memahami kandungan al-Qur’an dan hadis merupakan suatu keharusan. Dengan demikian, sangat rasional bila mempelajari keduanya juga wajib. Padahal ilmu nahwu dan sharaf tidak ada di zaman Rasulullah saw.

Berarti, kedua ilmu tersebut bid’ah. Namun karena mempelajarinya itu merupakan suatu keharusan, maka hukum bid’ahnya menjadi wajib (bid’ah wajibah).

Nah seandainya hal yang demikian seperti mempelajari ilmu nahwu dan sharaf yang tidak ada di zaman dan untuk menghukuminya mengikuti kelompok kaum wahabi yang mengatakan bahwa semua jenis bid’ah sesat dan haram serta pelakunya masuk neraka, maka sudah bisa ditebak apa yang akan terjadi kepada umat Islam di luar bangsa Arab.

Maka bila semisal hanya karena alasan bid’ah kemudian ilmu nahwu dan sharaf kemudian haram dipelajari, maka konsekuen logisnya, al-Qur’an dan hadis tidak mungkin bisa dipahami.

Jadi berkaitan dengan pembahasan mengenai hukum bid’ah, perlu dipahami bersama ahwa bid’ah itu terbagi menjadi beberapa bagian, ada yang wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah atau boleh. Maka yang paling baik dan bijak adalah pendapat dari golongan ahlus sunnah waljamaah.

Demikian pembahasan yang dapat kami sampaikan. Atas segala kekurangan dan ketidaksempurnaan yang ada kam mohon maaf yang sebesar-besarnya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Author

Write A Comment