Assalamualaikum wr.wb

Salam sejahtera sahabat setia,kita tahu  Hukum Islam dewasa ini sebagai pengatur hidup masyarakat dalam seluruh aspeknya baik bersifat individu ,maupun kolektif, menempati posisi yang mata penting dalam pandangan hidup umat Islam. Maka untuk dapat memahami hukum Islam maka harus mengetahui metode-metode dalam penetapan hukum Islam.

Apa yang kita ketahui tentang  Ijma’?

Saat ini  telah kita ketahui bahwa Al-Qur’an, sunnah,ijma’ dan Qiyas adalah sebagai sumber hukum islam. Ijma merupakan salah satu metode dalam menetapkan hukum atas segala permasalahan yang tidak didapatkan di dalam Al-Quran dan Sunnah.

Melihat berbagai masalah yang timbul di era globalisasi dan teknologi modern, nampaknya ijma yang merupakan salah satu metode menginstimbatkan hukum, terutama konsep ijma umat yang dipegang oleh imam Syafi’I sangatlah diperlukan. Perkembangan hukum islam saat ini terlihat adanya hubungan keterkaitan  konsep dengan ijma’ Imam Syafi’i.

konsep ijma’

  1. apa itu ijma’

Salah satu sumber penetapan dalam hukum islam setelah Al-Qur’an dan as Sunnah adalah ijma, yang memiliki tingkatkan argumentatif dan menempati tempat ketiga dalam sumber hukum islam. Kata ijma itu sendiri secara sistematis baru pada masa-masa mazhab awal. Seperti yang disepakati oleh jumhur ulama sunni,bahwa ijma adalah kesepakatan para mujtahidin umat islam di suatu masa sesudah masa Nabi sawF terhadap suatu urusan.

Menurut Al Amidi ijma seperti yang dikutip oleh Amir Syarifuddin: “Kesepakatan sejumlah ahlul halil wal aqdi ( para ahli yang berkompeten mengurusi umat ) dari zaman  umat muhammad  atas hukum peristiwa atau urusan.” Selain itu   jumhur ulama ushul fiqh abu zahra dan wahab khallaf menyimpulkan  ijma dengan kesepakatan atau konsensus para mujtahid dari umat muhammad pada suatu masa setelah wafatnya Rasulullah saw terhadap suatu hukum syara’ tentang suatu peristiwa atau urusan.

Di rumusan tersebut jelaslah bahwa ijma adalah kesepakatan dan yang sepakat adalah semua mujtahid muslim yang berlaku dalam suatu masa tertentu sesudah wafatnya nabi.

  1. Ijma Dalam Pandangan Imam Mazhab

Definisi yang diberikan oleh Abu Hanifah tentang ijma seperti yang didefinisikan oleh jumhur ulama sunny lainya yaitu kesepakatan para mujtahid ulama islam di suatu masa sesudah masa Nabi saw terhadap suatu urusan.

Sedangkan definisi yang dipakai oleh Imam Malik yaitu bahwa ijma merupakan persetujuan pendapat ahl-al halli wal aqdi dari umat in karena menurunya suatu urusan yang telah di ijma’i maka ia telah di ijma;i oleh para ahli fiqih dan ahli ilmu dan mereka tidak berselisih di dalamnya.

Imam Ahmad sendiri berpendapat bahwa ijma tidak mungkin terjadi dan sangat sulit untuk mengetahuinya karena ijma tidak mungkin terjadi selain pada masa sahabat.  Menurut penegasan ulama Hanafiyyah bahwa  Abu Hanifah ijma adalah salah satu hujjah agama dan mereka tidak membedakan antara macam-macam ijma itu ( ijma qauli dan ijma sukuti).

adapun Imam hanafiyyah menetapkan ijma hanya melalui logika (dalil akal). Sementara menurut Imam Malik ijma penduduk madina yang dapat dijadikan hujjah yaitu ijma mereka terhadap masalah-masalah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Kecuali sekumpulan fardhu yang agama tetapkan tidak ada seorangpun yang dapat mendakwahkan ijma’.

Itulah beberapa penjelasan tentang apa itu ijma’ sesuai dengan pandangan imam madzhab. apabila penjelasan ini antum masih kurang paham, silahkan antum bija baja materi tentang ijma di situs nyamankubro.com. Semoga kita dapat mengistimbatkan hukum salah satunya memahami tentang konsep ijma’ dan dapat menerapkan dikehidupan sehari-hari

Wassalamua’alaikum wr.wb

Author

Write A Comment